Kamis, 29 Maret 2012

Laporan

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 36 thn 2009)
Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah secara bersungguh-sungguh dan terus menerus berupaya meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan, serta memperhatikan dengan seksama, perubahan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta konsep-konsep kesehatan. Untuk itu telah dikembangkan konsep paradigma sehat. Paradigma sehat ini merupakan suatu paradigma pembangunan kesehatan yang lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif,disamping tetap melaksanakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Menurut  H. L. Blum (1974) derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu lingkungan,prilaku,pelayanan medis,dan keturunan. Yang sangat besar pengaruhnya adalah keadaan lingkungan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan prilaku masyarakat yang merugikan kesehatan, baik masyarakat di pedesaan maupun perkotaan yang di sebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dibidang kesehatan, ekonomi, maupun teknologi.
Lingkungan mempunyai dua unsure pokok yang sangat erat terkait satu sama lain yaitu unsur fisik dan sosial. Lingkungan fisik dapat mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan dan prilaku sehubungan dengan kesehatan seperti polusi air akibat pembuangan limbah pabrik ke sungai atau ketempat yang tidaka semestinya dan dapat menimbulkan bermacam-macam jenis penyakit seperti diare, ISPA, dan lain-lain. Lingkungan sosial seperti ketidak adilan sosial  yang dapat menyebabkan kemiskinan yang berdampak terhadap status kesehatan masyarakat yang mengakibatkan timbulnya penyakit berbasis lingkungan.
Masalah kesehatan berbasis lingkungan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya serta prilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah, mengakibatkan penyakit-penyakit seperti diare, ISPA, TB Paru, Malaria, DBD dan lain-lainnya merupakan sepuluh (10) besar penyakit di puskesmas dan merupakan pola penyakit utama di Indonesia.
Klinik sanitasi merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan (puskesmas) yang mengintegrasi anrata upaya kuratif, promotif dan preventif mempunyai peran antara lainnya : informasi, pusat rujukan, fasilator di bidang kesehatan lingkungan, dan penyakit berbasis lingkungan.

B.   Tujuan
1.    Tujuan Umum
.

2.    Tujuan Khusus



















BAB II
GAMBARAN UMUM

A.   Gambaran Umum Puskesmas Mamboro
1.      Fungsi, Visi,  Misi dan Strategi Puskesmas
Sebagai Unit Pelaksana Teknis  Dinas Kesehatan Kota Palu (UPTD),  Puskesmas Mamboro mempunyai tugas dan fungsi (tupoksi) sebagai  pusat pembangunan kesehatan masyarakat, pusat pembinaan kesehatan keluarga dan pembinaan lintas sektor untuk mendukung   terwujudnya kemampuan dan kemauan hidup sehat masyarakat Kelurahan Mamboro dan Taipa. Selain itu, sebagaimana hierarkinya,  puaskesmas juga merupakan  pusat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama. 
Dalam rangkaian pelaksanaan fungsinya tersebut Puskesmas  Mamboro mempunyai Visi  yaitu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Yang Optimal Menuju Kota  Palu Sehat 2010. Mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang  optimal mempunyai arti  bahwa Puskesmas Mamboro harus dapat memberikan   upaya – upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif dan kuratif dengan cepat, mudah, ramah, peduli, antisipatif, profesional yang  sesuai dengan prosedur dan standar mutu pelayanan.
Visi Puskesmas tersebut hanya dapat dicapai dengan pelaksanaan program yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan bertanggung jawab, terutama dalam  meningkatkan kinerja yang  berdisiplin yang tinggi. Karena bukan tidak mungkin dengan rendahnya mutu sumber daya manusia yang dimiliki, akan berdampak pada ketidakoptimalan pelayanan kesehatan, rendahnya mutu pelayanan, serta  progresivitas kinerja yang melambat, yang pada akhirnya akan berakibat pada buruknya pemberian pelayanan kesehatan di Puskesmas dan  gagalnya pencapaian target program kesehatan di Puskesmas Mamboro khususnya dan Dinas Kesehatan Kota Palu pada umumnya.
Atas dasar itu maka Puskesmas Mamboro menetapkan misi yaitu  Meningkatkan Mutu Pelayanan Melalui Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia. Adapun langkah – langkah yang diambil dalam mendukung misi ini antara lain :
v   Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sumber daya manusia melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta pelatihan sesuai dengan tugas dan  fungsinya.
v   Menerapkan kedisiplinan secara tegas dan lugas.
v   Meningkatkan tanggung jawab, loyalitas,  kejujuran dan ketulusan.
v   Menggalang dan membangun kerja sama serta membina rasa kekeluargaan antar sesama petugas,  tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lintas sektor.
v   Meningkatkan  tata tertib administrasi terutama  pencatatan dan pelaporan yang benar dan akurat.
Strategi Puskesmas Mamboro untuk mewujudkan Visi dan Misi Puskesmas Mamboro serta pelaksanaan fungsinya adalah sebagai berikut :
F Mengembangkan pola – pola pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, mudah, ramah, antisipatif dan  profesional yang  sesuai prosedur pelayanan dan standar mutu pelayanan.
F Mengembangkan sistem informasi kesehatan, PWS dan surveilance serta mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan dengan komputerisasi
F Meningkatkan kinerja program promkes dan kesehatan lingkungan melalui pengintegrasian program dan peningkatan kemampuan advokasi dan pemberdayaan  masyarakat.
F Membangun, memantapkan dan memperkuat kerja lintas program dan lintas sektor.
F Menerapkan Gugus Kendali Mutu didalam setiap pelayanan kesehatan di Puskesmas.
                                                                        
1.                   Keadaan Geografis Dan Administratif
Puskesmas Mamboro merupakan salah satu dari tiga buah Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Palu Utara.  Puskesmas Mamboro berjarak ±13 Km Kota Palu dan ±10 Km dari ibu kota Kecamatan Palu Utara. Luas wilayah kerja adalah  ± 29.67 Km2 yang terbagi dalam dua wilayah kelurahan yaitu  Kelurahan Mamboro (±18.17 Km2) dan Kelurahan Taipa (± 11.50 Km2).



Wilayah Kerja , Luas Kelurahan, Jumlah RT/RW & Kepala Keluarga
Di Wilayah Puskesmas Mamboro Tahun 2009

No
Kelurahan
Luas
(Km2)
Jumlah RT/RW
Jumlah KK
RT
RW
1
2.
Mamboro
T a i p a
18,17
11,50
36
18
8
5
1.432
973
Jumlah
29, 67
54
13
2.405
Sumber : Data Sekunder

Daerah kerja Puskesmas Mamboro adalah dataran rendah yang terletak tepat ditepi pantai Teluk Palu, yang beriklim panas dengan suhu udara rata-rata 32o C dengan kelembaban udara antara 70-76 %. Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Mamboro  adalah sebagai berikut  :
  • Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kayu Malue Ngapa
  • Sebelah Timur berbatasan dengan daerah perbukitan.
  • Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Palu.
  • Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tondo.
Di wilayah Puskesmas Mamboro juga terdapat berbagai fasilitas publik seperti terminal induk Mamboro, pelabuhan feri yang merupakan sarana penyeberangan laut yang menghubungkan Kota Palu dan Pulau Kalimantan  serta Politeknik Kesehatan, yang didalamnya terdapat  berbagai jurusan pendidikan kesehatan setara DIII di bawah naungan Kementrian Kesehatan RI. Selain itu di wilayah kerja Puskesmas Mamboro terdapat satu buah rumah sakit Jiwa Pusat Sulteng dan Markas Komando Brimob Sulteng.

2.                  Gambaran Masyarakat Di Wilayah Puskesmas Mamboro
1.                  Kependudukan
a.       Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk
                   Tahun 2006 penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro  berjumlah 11.239 jiwa. Sedangkan pada   tahun 2007 jumlah penduduk Mamboro adalah 11.628 jiwa dan pada tahun 2008 berjumlah 11.739 jiwa.  Pada tahun 2009, berdasarkan data BPS, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro sedikit bertambah   menjadi  11.742 jiwa.

 Sumber :BPS, 2009

Kepadatan penduduk diwilayah kerja Puskesmas Mamboro pada Tahun 2009 adalah 396 jiwa/ Km2, dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai  2.348 KK. Gambaran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
           


Distribusi Penduduk  Menurut Wilayah Kerja  Dan Luas Wilayah Kerja
Di Puskesmas Mamboro Tahun 2009
No
Kelurahan
Luas
(Km2)
Jumlah Penduduk
Jumlah KK
Kepadatan Penduduk
(jiwa/Km2)
Laki-Laki
Perempuan
1
2.
Mamboro
T a i p a
18,17
11,5
4.102
1.851
3.856
1.933
1.635
713
437/ Km2
331/ Km2
Jumlah
29,67
5.953
5.789
2.348
396/ Km2
Sumber :BPS, 2009

b.      Distribusi Penduduk Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin
                  Distribusi jumlah penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin pada tahun 2009 di Wilayah Puskesmas Mamboro dapat dilihat pada tabel berikut.

Distribusi Penduduk Menurut Golongan Umur,
Rasio Jenis Kelamin Dan Beban Tanggungan 
Di Puskesmas Mamboro Tahun 2009

No
Golongan Umur
Jenis kelamin
%
Rasio jenis kelamin
Depedency ratio
Laki-laki
Perempuan
1
2
3
4
5
6
0 – 4
5 – 9
10 – 14
15 – 44
45 – 64
65  +

569
442
529
3.431
820
161
554
430
515
3.347
788
156
9,56
7,43
8,89
57,72
13,69
2,70
103
40
Jumlah
5.952
5.790
100
   Sumber :BPS, 2009
Sampai akhir tahun 2009, sebagian besar  penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berada pada kelompok umur produktif (15-44 thn) yaitu mencapai  hampir 57,52 % dengan kecenderungan rasio jenis kelamin yang semakin berimbang, yaitu 103 laki-laki : 100 perempuan. sedangkan untuk rasio beban tanggungan yaitu 40,% yang berarti bahwa mereka yang  berusia antara15 – 64 Tahun harus menanggung 40 orang yang berusia antara <15 tahun dan > 64 tahun.
Prosentase balita ( 0 – 4 thn ) pun cenderung meningkat dari 9,46%  ditahun 2008 menjadi 9,56% pada tahun 2009. Sedangkan populasi penduduk usia lanjut (lansia)  yaitu penduduk yang berumur 45 tahun s/d ≥65 tahun  cenderung mengalami penurunan sekitar 0,8 % dari tahun 2008 atau menurun hingga 5% sejak 2007.
2.                  Gambaran Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang mutlak diperlukan masyarakat untuk mencapai atau meningkatkan tingkat kesejahteranan hidup. Bahkan  tingkat pendidikan dianggap berasosiasi positif dengan tingkat kemiskinan. Artinya bahwa jika tingkat pendidikan masyarakat rendah maka tingkat kemiskinan penduduk juga meningkat.
Di wilayah Puskesmas Mamboro terdapat berbagai jenis sarana pendidikan yaitu 10 SD, tiga buah  SMP/MTSN dan satu  buah SMA. di Kelurahan Mamboro. Kelurahan Mamboro bahkan merupakan kompleks sekolah kesehatan dimana terdapat bebagai sekolah kesehatan setingkat DIII Kesehatan baik negeri maupun swasta. Akses ketingkat  pendidikan setingkat universitas (UNTAD) juga bukan merupakan hambatan karena hanya berjarak ± 7 KM.
Dengan sedemikian lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan dan  ditengah mahalnya pembiayaan pendidikan, secara nyata tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja  Puskesmas Mamboro tengah mengalami peningkatan terutama bagi penduduk usia 10 tahun keatas.  Hal ini menunjukan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan.

Distribusi Jenis  Pendidikan Penduduk berusia 10 Tahun keatas Menurut Jenis Kelamin
Di Wilayah Kerja  Mamboro Tahun 2009

Jenis Pendidikan
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
%
Tidak/Blm Sekolah
254
262
516
5,23
Tidak/Belum Tamat SD
939
936
1.875
19.03
SD/MI
1.455
1.261
2.717
27,57
SLTP/MTs
1.031
1.145
2.176
22,08
SLTA/MA
756
748
1.504
15,26
AK/Diploma
300
276
576
5,84
Universitas
257
232
489
4,96
Jumlah
4.992
4.860
9.852
100
Sumber : Data sekunder

3.                  Gambaran Sosial Ekonomi, Lingkungan Dan Budaya
1.                  Sosial Ekonomi
Secara umum penduduk Kelurahan Mamboro terlihat sedikit lebih  baik keadaan sosial ekonominya dibandingkan penduduk Kelurahan Taipa. Tercatat, dari 3.912 jumlah  masyarakat miskin (maskin) di wilayah Puskemas Mamboro yang tercakup program jamkesmas, 43,79 % (1.668 jiwa atau 417KK) adalah  penduduk Kelurahan Taipa. Angka tersebut  mencapai lebih dari sepertiga  jumlah penduduk Kelurahan Taipa. 
Sedangkan penduduk miskin yang masuk dalam program Jamkesda tahun 2009, masing-masing adalah 350 jiwa di Kelurahan Mamboro dan 315 jiwa di Kelurahan Taipa. Secara keseluruhan penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah 4.577 jiwa atau 1.087 KK atau 38,98% dari jumlah penduduk. Angka inimencapai lebih dari sepertiga dari total jumlah penduduk yaitu 11. 742 jiwa. Adapun distribusi jenis pekerjaan penduduk dapat dilihat pada tabel berikut.


Distribusi Penduduk menurut  Jenis  Pekerjaan
Di Wilayah Kerja  Mamboro Tahun 2009
No
Jenis Pekerjaan
Jumlah
%
Maskin (jiwa)
Jamkesmas
Jamkesda
1
PNS
1.330
40.54
Mamboro
2.244
(367KK)
Mamboro
350
(197KK)
2
Swasta
399
12,16
3
Pedagang
126
3,84
4
Petani
496
15,12
Taipa
1.668
(417KK)
Taipa
315
(106KK)
5
Nelayan
174
5,30
6
Buruh
756
23.04
Jumlah
3.281
100
3.912
665
Sumber: Data Sekunder
Dari tabel  diatas terlihat bahwa sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskemas Mamboro bekerja sebagai PNS (40.54%) sedangkan yang berprofesi sebagai pedagang relatif kecil yaitu hanya 3,84%.
 b.        Lingkungan
Wilayah Puskesmas Mamboro yang terdiri dari 13 RW dan 54 RT, merupakan daerah urban yang terletak di Wilayah Kecamatan  Palu Utara. Selain merupakan lingkungan yang dikelilingi laut dan pegunungan, juga merupakan lingkungan pendidikan kesehatan dan lingkungan markas Brimob.  Keadaan ini memberi konsekuensi tersendiri yaitu menjadi tingginya angka migrasi masuk  dan meningkatkan jumlah pemukiman baru.
Secara epidemiologis, kondisi ini memungkinkan terjadinya perubahan pola distribusi penyakit karena mobilitas penduduk yang tinggi,  apalagi kondisi ini didukung oleh adanya terminal induk di Kelurahan Mamboro dan pelabuhan feri di Kelurahan Taipa,  yang memungkinkan  meningkatnya resiko bagi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro untuk mendapatkan  paparan penyakit dari penduduk yang datang atau singgah. Beban epidemiologis juga akan semakin besar terutama dengan dijadikannya kecamatan  Palu Utara sebagai kecamatan pusat industri di Kota Palu.
c.       Budaya 
Sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah penduduk asli yang bersuku kaili, sehingga cenderung budaya dan terutama perilaku (kebiasaan) atau pola hidup masyarakat sehari-hari  adalah hampir sama.
Pengambilan-pengambilan keputusan di masyarakat juga  masih paternalistik dan mendahulukan pendapat-pendapat orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat.
d.      Derajat Kesehatan Masyrakat
Peningkatan kesadaran, kemauan  dan kemampuan hidup sehat bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat tampaknya bukanlah lagi menjadi sekedar hakikat belaka dari upaya pembangunan kesehatan semata, tetapi harus dapat diterjemahkan kedalam setiap upaya kesehatan yang diprogramkan di masyarakat.   Program kesehatan bukan hanya harus dapat menekan tingkat kesakitan tetapi juga harus dapat mengurangi jumlah masyarakat yang masih berperilaku hidup yang  negatif  bagi kesehatannya.
Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan dan pusat pembinaan kesehatan keluarga dituntut untuk dapat meningkatkan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang rentan terhadap pajanan penyakit serta meningkatkan dan atau membangun kesadaran masyarakat  untuk  menerapkan PHBS dan  lingkungan sehat. Demi untuk  meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Puskesmas juga dituntut meningkatkan mutu layanan dan membuka akses pelayanan kesehatan seluas-luasnya kepada masyarakat.
B.     Angka Kesakitan
1.Pola Penyakit Rawat Jalan
Penyakit-penyakit infeksi, seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, masih merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mamboro. Penyakit-penyakit infeksi tersebut meliputi  penyakit infeksi pada saluran pernafasan (ISPA), penyakit kulit, diare, disentry dan sebagainya.
Tabel 3. 1.   10 Penyakit Tertinggi Yang Dirawat Jalan Tahun 2008



Jenis Penyakit
Jumlah Kasus
%
1
Infeksi lain pada Saluran Pernafasan Atas
2.658
54.70
2
Diare
410
8,44
3
Gastritis
365
7,51
4
Penyakit kulit Alergi
336
6,92
5
Hypertensi
304
6,26
6
Sisitem otot dan jaringan pengikat ( Penyakit Tulang belulang, radang sendi, termasuk rematik
177
3,64
7
Penyakit lain pada saluran pernafasan bag. atas
161
3,31
8
Penyakit kulit infeksi
156
3,21
9
Gingivitis & Jaringan Periodental
153
3,15
10
Penyakit Pulpa dan jaringan periapikal
139
2,86
J u m l a h
4.859
100
Sumber : SP2TP, 2008

Dari 4.859 Kasus penyakit pada tahun 2008, penyakit ISPA merupakan penyakit yang paling banyak  diderita oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mamboro yaitu sebesar 54,70 % atau lebih dari setengah Kasus penyakit yang ada adalah mereka yang menderita ISPA. Sedangkan yang terkecil adalah Penyakit Pulpa sebesar 2,86 % di wilayah kerja Puskesmas Mamboro.
                           
a.      Pola Penyakit Menular
Penyakit menular atau penyakit infeksi adalah penyakit yang sebabkan oleh mikroorganisme pathogen yang menginfeksi manusia baik secara langsung dan atau ditularkan melalui perantaraan vektor (vector borne disease).
a.       Angka AFP pada anak usia < 15 Tahun.
Pada tahun 2008 diwilayah Puskesmas mamboro tidak ada kasus AFP pada anak usia <15 Tahun.

b.      TB Paru
Pada Tahun 2008 jumlah penderita klinis TB Paru yang ditangani di Puskesmas Mamboro sebanyak 76 orang. Kasus ini menurun bila dubandingkan dengan tahun 2007 yang sebanyak 89 orang dan tahun 2006 juga sebanyak 89 orang.  Berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen dahak, 10 orang kemudian dinyatakan positif  TB Paru dan mendapatkan pengobatan secara gratis. Distribusi menurut tempat penderita terlihat bahwa 60 % penderita positif TB berdomisili di Kelurahan Mamboro dan 40 % lainnya di Kelurahan Taipa.





c.       Pneumonia pada balita.
Belum membaiknya daya beli masyakat yang berakibat pada belum membaiknya pula status  gizi masyarakat, serta masih buruknya perilaku ibu terutama dalam memelihara status kesehatan balitanya, membuat penyakit pneumonia khususnya pada balita masih cukup tinggi. Total  kasus penyakit  pnumonia dan pneumonia berat pada semua golongan umur balita di wilayah kerja Puskesmas Mamboro pada tahun 2008 adalah 61 kasus.
Secara spesifik pada balita, pada tahun 2008 jumlah kasus pneumonia pada balita adalah sebanyak 61 kasus. Menurun bila dibandingkan kasus pneumonia pada tahun 2007 adalah 132 kasus.
Penyakit pneumonia pada tahun 2006 diderita oleh 146 kasus anak balita.   Adapun distribusi penyakit pneumonia  menurut waktu dapat grafik berikut.
Distribusi diatas memperlihatkan bahwa mulai terjadi kecenderungan peningkatan kasus penyakit baik pneumonia maupun pneumonia berat sejak awal triwulan satu dengan puncak kasus terjadi diawal   triwulan dua atau bulan April. Sedangkan pada  triwulan selanjutnya jumlah  kasus tetap fluktuatif  namun dengan kecenderungan menurun.
d.      Infeksi Menular Seksual ( IMS ).
Kasus penyakit Infeksi Menular Seksual ( IMS ) di Wilayah kerja Puskesmas Mamboro pada tahun 2008 adalah 18 Kasus, dimana sebagain besar kasus terjadi di Kelurahan Mamboro sebanyak 17 Kasus dan di kelurahan Taipa sebanyak 1 kasus.

e.       Demam Berdarah Dengue.
Dengue haemoragic fever (DHF) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Sebagaimana penyakit golongan  insect borne disease, maka pencegahan utama penyakit DBD difokuskan pada serangga yang menjadi vektor penyakitnya yaitu nyamuk. 3M plus yaitu menutup, mengubur dan menguras plus menggunakan kelambu atau lotion anti nyamuk adalah cara yang paling tepat dan sederhana dalam mencegah atau memutus mata rantai penularan penyakit ini. 
Pada tahun 2008 ditemukan penyakit DBD sebesar 13 kasus atau 0,110/100.000 penduduk dan persentase yang ditangani adalah 92,3 % dari jumlah kasus atau 12 kasus yang ditangani

f.       Diare
Diare adalah penyakit yang kejadiannya berhubungan erat dengan kondisi hygiene dan sanitasi yang buruk serta tingkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat yang belum juga membaik.
Pada tahun 2008 kasus penyakit diare di wilayah Puskesmas Mamboro adalah sebanyak 410 kasus menurun bila dibandingkan kasus pada tahun 2007 sebesar 479 kasus.
Sedangkan kasus diare pada balita adalah sebanyak 262 kasus pada tahun 2008 dengan persentase kasus diare pada balita yang ditangani adalah 62 % dari seluruh kasus yang terjadi dan 3,454/100.000 pddk.
.  Berikut Grafik Distribusi penyakit diare menurut  waktu pada tahun 2008.
  
Dari grafik diatas terlihat bahwa penyakit diare mulai memperlihatkan trend meningkat terjadi diawal tahun yaitu bulan januari 2008 dan menurun di bulan februari sampai dengan bulan juni  dengan puncak kasus berada pada bulan agustus , kemudian cenderung menurun sampai dengan September  lalu kembali memperlihatkan trend peningkatan kasus.


g.      Malaria
Seperti halnya penyakit DBD, penyakit malaria juga dalah golongan penyakit  insect borne disease, dengan vector utamanya adalah nyamuk spesies Anopheles. Nyamuk ini hidup dan berkembang biak  di air tergenang yang kontak dengan tanah.
Pada tahun 2008, jumlah penderita penyakit malaria klinis yaitu 38 kasus Dari jumlah tersebut 8 kasus (21,05 %) dinyatakan positif malaria berdasarkan hasil pemeriksaan sediaan darah penderita dan kemudian mendapatkan pengobatan. Jadi angka kesakitan Malaria adalah 3,20/1000 pddk serta persentase penderita malaria yang diobati adalah 92,11 %
Jumlah penyakit  malaria klinis dan positif secara keseluruhan di Puskesmas Mamboro cenderung mengalami penurunan kasus dari tahun ketahun. Pada tahun 2007 jumlahnya mencapai 74 malaria klinis dan 15 positif. Tahun 2005, 126 klinis dan 16 orang positif dan tahun 2006, 109 penderita  malaria klinis dan hanya 12 orang  dinyatakan positif.
h.      Kusta.
Pada Tahun 2008 penyakit kusta yang diobati ada 3 kasus penderita MB dan semuanya mendapat pengobatan dan dalam tahap penyembuhan.
Dalam hal ini semua penderita kusta diwilayah Puskesmas Mamboro masih menjalani pengobatan secara rutin.

i.        Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi ( PD3I Yang termasuk dalam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain : Diftheri, Pertusis, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio dan Hepetitis B.
Pada tahun 2008 kasus penyakit pada PD3I adalah penyakit campak yang berjumlah 4 kasus yang terjadi dikelurahan Mamboro dan angka kesakitannya dalah 34/100.000 penduduk















B.   Hasil Kegiatan
Lembar Kegiatan Praktik Klinik Sanitasi Di Puskesmas Kota Palu
Puskesmas        : Mamboro
No
Hari/Tanggal
Waktu
Kegiatan
Ket
1.









2.





3.
Senin, 14 Maret 2011








Selasa, 15 Maret 2011




Rabu, 16 Maret 2011
08.30-09.00

09.00-09.30

09.30-10.00
13.00

09.00-12.00

12.00-12.30

08.00-08.30
12.30
 Pengarahan dari kepalah Puskesmas

perkenalan staf dan ruangan   Puskesmas
bersih-bersih di ruang klinik sanitasi
 apel siang

pengambilan data di kelurahan mamboro
apel siang

pembagian kuisioner kepada pasien
apel siang



No
Hari/Tanggal
Waktu
Kegiatan
Ket
4.




5.



6.








7.




8.




9.





10.



11.
Kamis, 17 Maret 2011

Jum’at, 18 Maret 2011

Sabtu, 19 Maret 2011




Senin, 21 Maret 2011

Selasa, 22 Maret 2011


Rabu, 23 Maret 2011


Kamis, 24 Maret
Jum’at, 25 Maret
08.00-12.30
07.30-08.00

08.00


07.30-08.30

09.00-12.30

12.30

09.20-12.00


08.30-11.45

12.00

09.00-12.00

12.00

09.00-11.30

08.00-09.00

09.00
Klinik sanitasi
Apel pulang

Kerja bakti


Kerja bakti

Pengambilan data di kel. Taipa

Apel pulang

Pengambilan data sanitasi dasar di kel. mamboro

Pengambilan data sanitasi dasar

Apel pulang

Klinik sanitasi

Apel pulang

Pengambilan sampel depot amiu

Kerja bakti

Tabulasi data inspeksi sarana sanitasi dasar



No
Hari/Tanggal
Waktu
Kegiatan
Ket
4.








5.






6.








Sabtu, 26 Maret 2011




Senin, 28 Maret 2011


Selasa, 29

08.00-09.30

09.30-11.30

12.00

08.00-10.00

10.00-11.30

11.00-13.30

08.00-10.00

13.30

12.00-12.30
12.30-13.30
13.30
membungkus abate
pengambilan data sanitasi dasar di taipa

apel pulang

Apel pulang





Tidak ada komentar:

Posting Komentar