BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pembangunan kesehatan bertujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis (UU No. 36 thn 2009)
Untuk mencapai tujuan tersebut pemerintah secara bersungguh-sungguh dan terus menerus berupaya meningkatkan mutu dan jangkauan pelayanan kesehatan, serta memperhatikan dengan seksama, perubahan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi serta konsep-konsep kesehatan. Untuk itu telah dikembangkan konsep paradigma sehat. Paradigma sehat ini merupakan suatu paradigma pembangunan kesehatan yang lebih menekankan pada upaya promotif dan preventif,disamping tetap melaksanakan upaya kuratif dan rehabilitatif.
Menurut H. L. Blum (1974) derajat kesehatan dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu lingkungan,prilaku,pelayanan medis,dan keturunan. Yang sangat besar pengaruhnya adalah keadaan lingkungan yang tidak memenuhi persyaratan kesehatan dan prilaku masyarakat yang merugikan kesehatan, baik masyarakat di pedesaan maupun perkotaan yang di sebabkan karena kurangnya pengetahuan dan kemampuan masyarakat dibidang kesehatan, ekonomi, maupun teknologi.
Lingkungan mempunyai dua unsure pokok yang sangat erat terkait satu sama lain yaitu unsur fisik dan sosial. Lingkungan fisik dapat mempunyai hubungan langsung dengan kesehatan dan prilaku sehubungan dengan kesehatan seperti polusi air akibat pembuangan limbah pabrik ke sungai atau ketempat yang tidaka semestinya dan dapat menimbulkan bermacam-macam jenis penyakit seperti diare, ISPA, dan lain-lain. Lingkungan sosial seperti ketidak adilan sosial yang dapat menyebabkan kemiskinan yang berdampak terhadap status kesehatan masyarakat yang mengakibatkan timbulnya penyakit berbasis lingkungan.
Masalah kesehatan berbasis lingkungan disebabkan oleh kondisi lingkungan yang tidak memadai, baik kualitas maupun kuantitasnya serta prilaku hidup sehat masyarakat yang masih rendah, mengakibatkan penyakit-penyakit seperti diare, ISPA, TB Paru, Malaria, DBD dan lain-lainnya merupakan sepuluh (10) besar penyakit di puskesmas dan merupakan pola penyakit utama di Indonesia.
Klinik sanitasi merupakan salah satu unit pelayanan kesehatan (puskesmas) yang mengintegrasi anrata upaya kuratif, promotif dan preventif mempunyai peran antara lainnya : informasi, pusat rujukan, fasilator di bidang kesehatan lingkungan, dan penyakit berbasis lingkungan.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
.
2. Tujuan Khusus
BAB II
GAMBARAN UMUM
A. Gambaran Umum Puskesmas Mamboro
1. Fungsi, Visi, Misi dan Strategi Puskesmas
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Dinas Kesehatan Kota Palu (UPTD), Puskesmas Mamboro mempunyai tugas dan fungsi (tupoksi) sebagai pusat pembangunan kesehatan masyarakat, pusat pembinaan kesehatan keluarga dan pembinaan lintas sektor untuk mendukung terwujudnya kemampuan dan kemauan hidup sehat masyarakat Kelurahan Mamboro dan Taipa. Selain itu, sebagaimana hierarkinya, puaskesmas juga merupakan pusat pelayanan kesehatan rawat jalan tingkat pertama.
Dalam rangkaian pelaksanaan fungsinya tersebut Puskesmas Mamboro mempunyai Visi yaitu Mewujudkan Pelayanan Kesehatan Yang Optimal Menuju Kota Palu Sehat 2010. Mewujudkan pelayanan kesehatan dasar yang optimal mempunyai arti bahwa Puskesmas Mamboro harus dapat memberikan upaya – upaya pelayanan kesehatan baik promotif, preventif dan kuratif dengan cepat, mudah, ramah, peduli, antisipatif, profesional yang sesuai dengan prosedur dan standar mutu pelayanan.
Visi Puskesmas tersebut hanya dapat dicapai dengan pelaksanaan program yang didukung oleh sumber daya manusia yang profesional dan bertanggung jawab, terutama dalam meningkatkan kinerja yang berdisiplin yang tinggi. Karena bukan tidak mungkin dengan rendahnya mutu sumber daya manusia yang dimiliki, akan berdampak pada ketidakoptimalan pelayanan kesehatan, rendahnya mutu pelayanan, serta progresivitas kinerja yang melambat, yang pada akhirnya akan berakibat pada buruknya pemberian pelayanan kesehatan di Puskesmas dan gagalnya pencapaian target program kesehatan di Puskesmas Mamboro khususnya dan Dinas Kesehatan Kota Palu pada umumnya.
Atas dasar itu maka Puskesmas Mamboro menetapkan misi yaitu Meningkatkan Mutu Pelayanan Melalui Peningkatan Mutu Sumber Daya Manusia. Adapun langkah – langkah yang diambil dalam mendukung misi ini antara lain :
v Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan sumber daya manusia melalui pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi serta pelatihan sesuai dengan tugas dan fungsinya.
v Menerapkan kedisiplinan secara tegas dan lugas.
v Meningkatkan tanggung jawab, loyalitas, kejujuran dan ketulusan.
v Menggalang dan membangun kerja sama serta membina rasa kekeluargaan antar sesama petugas, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan lintas sektor.
v Meningkatkan tata tertib administrasi terutama pencatatan dan pelaporan yang benar dan akurat.
Strategi Puskesmas Mamboro untuk mewujudkan Visi dan Misi Puskesmas Mamboro serta pelaksanaan fungsinya adalah sebagai berikut :
F Mengembangkan pola – pola pelayanan kesehatan yang cepat, tepat, mudah, ramah, antisipatif dan profesional yang sesuai prosedur pelayanan dan standar mutu pelayanan.
F Mengembangkan sistem informasi kesehatan, PWS dan surveilance serta mengembangkan sistem pencatatan dan pelaporan dengan komputerisasi
F Meningkatkan kinerja program promkes dan kesehatan lingkungan melalui pengintegrasian program dan peningkatan kemampuan advokasi dan pemberdayaan masyarakat.
F Membangun, memantapkan dan memperkuat kerja lintas program dan lintas sektor.
F Menerapkan Gugus Kendali Mutu didalam setiap pelayanan kesehatan di Puskesmas.
1. Keadaan Geografis Dan Administratif
Puskesmas Mamboro merupakan salah satu dari tiga buah Puskesmas yang ada di wilayah Kecamatan Palu Utara. Puskesmas Mamboro berjarak ±13 Km Kota Palu dan ±10 Km dari ibu kota Kecamatan Palu Utara. Luas wilayah kerja adalah ± 29.67 Km2 yang terbagi dalam dua wilayah kelurahan yaitu Kelurahan Mamboro (±18.17 Km2) dan Kelurahan Taipa (± 11.50 Km2).
Wilayah Kerja , Luas Kelurahan, Jumlah RT/RW & Kepala Keluarga
Di Wilayah Puskesmas Mamboro Tahun 2009
No | Kelurahan | Luas (Km2) | Jumlah RT/RW | Jumlah KK | |
RT | RW | ||||
1 2. | Mamboro T a i p a | 18,17 11,50 | 36 18 | 8 5 | 1.432 973 |
Jumlah | 29, 67 | 54 | 13 | 2.405 |
Sumber : Data Sekunder
Daerah kerja Puskesmas Mamboro adalah dataran rendah yang terletak tepat ditepi pantai Teluk Palu, yang beriklim panas dengan suhu udara rata-rata 32o C dengan kelembaban udara antara 70-76 %. Adapun batas-batas wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah sebagai berikut :
- Sebelah Utara berbatasan dengan Kelurahan Kayu Malue Ngapa
- Sebelah Timur berbatasan dengan daerah perbukitan.
- Sebelah Barat berbatasan dengan Teluk Palu.
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Tondo.
Di wilayah Puskesmas Mamboro juga terdapat berbagai fasilitas publik seperti terminal induk Mamboro, pelabuhan feri yang merupakan sarana penyeberangan laut yang menghubungkan Kota Palu dan Pulau Kalimantan serta Politeknik Kesehatan, yang didalamnya terdapat berbagai jurusan pendidikan kesehatan setara DIII di bawah naungan Kementrian Kesehatan RI. Selain itu di wilayah kerja Puskesmas Mamboro terdapat satu buah rumah sakit Jiwa Pusat Sulteng dan Markas Komando Brimob Sulteng.
2. Gambaran Masyarakat Di Wilayah Puskesmas Mamboro
1. Kependudukan
a. Pertumbuhan Dan Kepadatan Penduduk
Tahun 2006 penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berjumlah 11.239 jiwa. Sedangkan pada tahun 2007 jumlah penduduk Mamboro adalah 11.628 jiwa dan pada tahun 2008 berjumlah 11.739 jiwa. Pada tahun 2009, berdasarkan data BPS, jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro sedikit bertambah menjadi 11.742 jiwa.

Kepadatan penduduk diwilayah kerja Puskesmas Mamboro pada Tahun 2009 adalah 396 jiwa/ Km2, dengan jumlah Kepala Keluarga mencapai 2.348 KK. Gambaran tersebut dapat dilihat pada tabel berikut.
Distribusi Penduduk Menurut Wilayah Kerja Dan Luas Wilayah Kerja
Di Puskesmas Mamboro Tahun 2009
No | Kelurahan | Luas (Km2) | Jumlah Penduduk | Jumlah KK | Kepadatan Penduduk (jiwa/Km2) | |
Laki-Laki | Perempuan | |||||
1 2. | Mamboro T a i p a | 18,17 11,5 | 4.102 1.851 | 3.856 1.933 | 1.635 713 | 437/ Km2 331/ Km2 |
Jumlah | 29,67 | 5.953 | 5.789 | 2.348 | 396/ Km2 |
Sumber :BPS, 2009
b. Distribusi Penduduk Menurut Golongan Umur Dan Jenis Kelamin
Distribusi jumlah penduduk menurut golongan umur dan jenis kelamin pada tahun 2009 di Wilayah Puskesmas Mamboro dapat dilihat pada tabel berikut.
Distribusi Penduduk Menurut Golongan Umur,
Rasio Jenis Kelamin Dan Beban Tanggungan
Di Puskesmas Mamboro Tahun 2009
No | Golongan Umur | Jenis kelamin | % | Rasio jenis kelamin | Depedency ratio | |
Laki-laki | Perempuan | |||||
1 2 3 4 5 6 | 0 – 4 5 – 9 10 – 14 15 – 44 45 – 64 65 + | 569 442 529 3.431 820 161 | 554 430 515 3.347 788 156 | 9,56 7,43 8,89 57,72 13,69 2,70 | 103 | 40 |
Jumlah | 5.952 | 5.790 | 100 |
Sumber :BPS, 2009
Sampai akhir tahun 2009, sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro berada pada kelompok umur produktif (15-44 thn) yaitu mencapai hampir 57,52 % dengan kecenderungan rasio jenis kelamin yang semakin berimbang, yaitu 103 laki-laki : 100 perempuan. sedangkan untuk rasio beban tanggungan yaitu 40,% yang berarti bahwa mereka yang berusia antara15 – 64 Tahun harus menanggung 40 orang yang berusia antara <15 tahun dan > 64 tahun.
Prosentase balita ( 0 – 4 thn ) pun cenderung meningkat dari 9,46% ditahun 2008 menjadi 9,56% pada tahun 2009. Sedangkan populasi penduduk usia lanjut (lansia) yaitu penduduk yang berumur 45 tahun s/d ≥65 tahun cenderung mengalami penurunan sekitar 0,8 % dari tahun 2008 atau menurun hingga 5% sejak 2007.

2. Gambaran Tingkat Pendidikan
Pendidikan adalah hal yang mutlak diperlukan masyarakat untuk mencapai atau meningkatkan tingkat kesejahteranan hidup. Bahkan tingkat pendidikan dianggap berasosiasi positif dengan tingkat kemiskinan. Artinya bahwa jika tingkat pendidikan masyarakat rendah maka tingkat kemiskinan penduduk juga meningkat.
Di wilayah Puskesmas Mamboro terdapat berbagai jenis sarana pendidikan yaitu 10 SD, tiga buah SMP/MTSN dan satu buah SMA. di Kelurahan Mamboro. Kelurahan Mamboro bahkan merupakan kompleks sekolah kesehatan dimana terdapat bebagai sekolah kesehatan setingkat DIII Kesehatan baik negeri maupun swasta. Akses ketingkat pendidikan setingkat universitas (UNTAD) juga bukan merupakan hambatan karena hanya berjarak ± 7 KM.
Dengan sedemikian lengkapnya sarana dan prasarana pendidikan dan ditengah mahalnya pembiayaan pendidikan, secara nyata tingkat pendidikan masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mamboro tengah mengalami peningkatan terutama bagi penduduk usia 10 tahun keatas. Hal ini menunjukan bahwa masyarakat sadar akan pentingnya pendidikan.
Distribusi Jenis Pendidikan Penduduk berusia 10 Tahun keatas Menurut Jenis Kelamin
Di Wilayah Kerja Mamboro Tahun 2009
Jenis Pendidikan | Laki-laki | Perempuan | Jumlah | % |
Tidak/Blm Sekolah | 254 | 262 | 516 | 5,23 |
Tidak/Belum Tamat SD | 939 | 936 | 1.875 | 19.03 |
SD/MI | 1.455 | 1.261 | 2.717 | 27,57 |
SLTP/MTs | 1.031 | 1.145 | 2.176 | 22,08 |
SLTA/MA | 756 | 748 | 1.504 | 15,26 |
AK/Diploma | 300 | 276 | 576 | 5,84 |
Universitas | 257 | 232 | 489 | 4,96 |
Jumlah | 4.992 | 4.860 | 9.852 | 100 |
Sumber : Data sekunder
3. Gambaran Sosial Ekonomi, Lingkungan Dan Budaya
1. Sosial Ekonomi
Secara umum penduduk Kelurahan Mamboro terlihat sedikit lebih baik keadaan sosial ekonominya dibandingkan penduduk Kelurahan Taipa. Tercatat, dari 3.912 jumlah masyarakat miskin (maskin) di wilayah Puskemas Mamboro yang tercakup program jamkesmas, 43,79 % (1.668 jiwa atau 417KK) adalah penduduk Kelurahan Taipa. Angka tersebut mencapai lebih dari sepertiga jumlah penduduk Kelurahan Taipa.
Sedangkan penduduk miskin yang masuk dalam program Jamkesda tahun 2009, masing-masing adalah 350 jiwa di Kelurahan Mamboro dan 315 jiwa di Kelurahan Taipa. Secara keseluruhan penduduk miskin di wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah 4.577 jiwa atau 1.087 KK atau 38,98% dari jumlah penduduk. Angka inimencapai lebih dari sepertiga dari total jumlah penduduk yaitu 11. 742 jiwa. Adapun distribusi jenis pekerjaan penduduk dapat dilihat pada tabel berikut.
Distribusi Penduduk menurut Jenis Pekerjaan
Di Wilayah Kerja Mamboro Tahun 2009
No | Jenis Pekerjaan | Jumlah | % | Maskin (jiwa) | |
Jamkesmas | Jamkesda | ||||
1 | PNS | 1.330 | 40.54 | Mamboro 2.244 (367KK) | Mamboro 350 (197KK) |
2 | Swasta | 399 | 12,16 | ||
3 | Pedagang | 126 | 3,84 | ||
4 | Petani | 496 | 15,12 | Taipa 1.668 (417KK) | Taipa 315 (106KK) |
5 | Nelayan | 174 | 5,30 | ||
6 | Buruh | 756 | 23.04 | ||
Jumlah | 3.281 | 100 | 3.912 | 665 |
Sumber: Data Sekunder
Dari tabel diatas terlihat bahwa sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskemas Mamboro bekerja sebagai PNS (40.54%) sedangkan yang berprofesi sebagai pedagang relatif kecil yaitu hanya 3,84%.
b. Lingkungan
Wilayah Puskesmas Mamboro yang terdiri dari 13 RW dan 54 RT, merupakan daerah urban yang terletak di Wilayah Kecamatan Palu Utara. Selain merupakan lingkungan yang dikelilingi laut dan pegunungan, juga merupakan lingkungan pendidikan kesehatan dan lingkungan markas Brimob. Keadaan ini memberi konsekuensi tersendiri yaitu menjadi tingginya angka migrasi masuk dan meningkatkan jumlah pemukiman baru.
Secara epidemiologis, kondisi ini memungkinkan terjadinya perubahan pola distribusi penyakit karena mobilitas penduduk yang tinggi, apalagi kondisi ini didukung oleh adanya terminal induk di Kelurahan Mamboro dan pelabuhan feri di Kelurahan Taipa, yang memungkinkan meningkatnya resiko bagi penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro untuk mendapatkan paparan penyakit dari penduduk yang datang atau singgah. Beban epidemiologis juga akan semakin besar terutama dengan dijadikannya kecamatan Palu Utara sebagai kecamatan pusat industri di Kota Palu.
c. Budaya
Sebagian besar penduduk di wilayah kerja Puskesmas Mamboro adalah penduduk asli yang bersuku kaili, sehingga cenderung budaya dan terutama perilaku (kebiasaan) atau pola hidup masyarakat sehari-hari adalah hampir sama.
Pengambilan-pengambilan keputusan di masyarakat juga masih paternalistik dan mendahulukan pendapat-pendapat orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat.
d. Derajat Kesehatan Masyrakat
Peningkatan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap individu, keluarga dan masyarakat tampaknya bukanlah lagi menjadi sekedar hakikat belaka dari upaya pembangunan kesehatan semata, tetapi harus dapat diterjemahkan kedalam setiap upaya kesehatan yang diprogramkan di masyarakat. Program kesehatan bukan hanya harus dapat menekan tingkat kesakitan tetapi juga harus dapat mengurangi jumlah masyarakat yang masih berperilaku hidup yang negatif bagi kesehatannya.
Puskesmas sebagai pusat pembangunan kesehatan dan pusat pembinaan kesehatan keluarga dituntut untuk dapat meningkatkan perlindungan kesehatan bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang rentan terhadap pajanan penyakit serta meningkatkan dan atau membangun kesadaran masyarakat untuk menerapkan PHBS dan lingkungan sehat. Demi untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, Puskesmas juga dituntut meningkatkan mutu layanan dan membuka akses pelayanan kesehatan seluas-luasnya kepada masyarakat.
B. Angka Kesakitan
1.Pola Penyakit Rawat Jalan
Penyakit-penyakit infeksi, seperti halnya pada tahun-tahun sebelumnya, masih merupakan jenis penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mamboro. Penyakit-penyakit infeksi tersebut meliputi penyakit infeksi pada saluran pernafasan (ISPA), penyakit kulit, diare, disentry dan sebagainya.
Tabel 3. 1. 10 Penyakit Tertinggi Yang Dirawat Jalan Tahun 2008
Jenis Penyakit | Jumlah Kasus | % | |
1 | Infeksi lain pada Saluran Pernafasan Atas | 2.658 | 54.70 |
2 | Diare | 410 | 8,44 |
3 | Gastritis | 365 | 7,51 |
4 | Penyakit kulit Alergi | 336 | 6,92 |
5 | Hypertensi | 304 | 6,26 |
6 | Sisitem otot dan jaringan pengikat ( Penyakit Tulang belulang, radang sendi, termasuk rematik | 177 | 3,64 |
7 | Penyakit lain pada saluran pernafasan bag. atas | 161 | 3,31 |
8 | Penyakit kulit infeksi | 156 | 3,21 |
9 | Gingivitis & Jaringan Periodental | 153 | 3,15 |
10 | Penyakit Pulpa dan jaringan periapikal | 139 | 2,86 |
J u m l a h | 4.859 | 100 |
Sumber : SP2TP, 2008
Dari 4.859 Kasus penyakit pada tahun 2008, penyakit ISPA merupakan penyakit yang paling banyak diderita oleh masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Mamboro yaitu sebesar 54,70 % atau lebih dari setengah Kasus penyakit yang ada adalah mereka yang menderita ISPA. Sedangkan yang terkecil adalah Penyakit Pulpa sebesar 2,86 % di wilayah kerja Puskesmas Mamboro.
a. Pola Penyakit Menular
Penyakit menular atau penyakit infeksi adalah penyakit yang sebabkan oleh mikroorganisme pathogen yang menginfeksi manusia baik secara langsung dan atau ditularkan melalui perantaraan vektor (vector borne disease).
a. Angka AFP pada anak usia < 15 Tahun.
Pada tahun 2008 diwilayah Puskesmas mamboro tidak ada kasus AFP pada anak usia <15 Tahun.
b. TB Paru
Pada Tahun 2008 jumlah penderita klinis TB Paru yang ditangani di Puskesmas Mamboro sebanyak 76 orang. Kasus ini menurun bila dubandingkan dengan tahun 2007 yang sebanyak 89 orang dan tahun 2006 juga sebanyak 89 orang. Berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen dahak, 10 orang kemudian dinyatakan positif TB Paru dan mendapatkan pengobatan secara gratis. Distribusi menurut tempat penderita terlihat bahwa 60 % penderita positif TB berdomisili di Kelurahan Mamboro dan 40 % lainnya di Kelurahan Taipa.
c. Pneumonia pada balita.
Belum membaiknya daya beli masyakat yang berakibat pada belum membaiknya pula status gizi masyarakat, serta masih buruknya perilaku ibu terutama dalam memelihara status kesehatan balitanya, membuat penyakit pneumonia khususnya pada balita masih cukup tinggi. Total kasus penyakit pnumonia dan pneumonia berat pada semua golongan umur balita di wilayah kerja Puskesmas Mamboro pada tahun 2008 adalah 61 kasus.
Secara spesifik pada balita, pada tahun 2008 jumlah kasus pneumonia pada balita adalah sebanyak 61 kasus. Menurun bila dibandingkan kasus pneumonia pada tahun 2007 adalah 132 kasus.
Penyakit pneumonia pada tahun 2006 diderita oleh 146 kasus anak balita. Adapun distribusi penyakit pneumonia menurut waktu dapat grafik berikut.

Distribusi diatas memperlihatkan bahwa mulai terjadi kecenderungan peningkatan kasus penyakit baik pneumonia maupun pneumonia berat sejak awal triwulan satu dengan puncak kasus terjadi diawal triwulan dua atau bulan April. Sedangkan pada triwulan selanjutnya jumlah kasus tetap fluktuatif namun dengan kecenderungan menurun.
d. Infeksi Menular Seksual ( IMS ).
Kasus penyakit Infeksi Menular Seksual ( IMS ) di Wilayah kerja Puskesmas Mamboro pada tahun 2008 adalah 18 Kasus, dimana sebagain besar kasus terjadi di Kelurahan Mamboro sebanyak 17 Kasus dan di kelurahan Taipa sebanyak 1 kasus.
e. Demam Berdarah Dengue.
Dengue haemoragic fever (DHF) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus dengue yang disebarkan oleh nyamuk Aedes aegypti. Sebagaimana penyakit golongan insect borne disease, maka pencegahan utama penyakit DBD difokuskan pada serangga yang menjadi vektor penyakitnya yaitu nyamuk. 3M plus yaitu menutup, mengubur dan menguras plus menggunakan kelambu atau lotion anti nyamuk adalah cara yang paling tepat dan sederhana dalam mencegah atau memutus mata rantai penularan penyakit ini.
Pada tahun 2008 ditemukan penyakit DBD sebesar 13 kasus atau 0,110/100.000 penduduk dan persentase yang ditangani adalah 92,3 % dari jumlah kasus atau 12 kasus yang ditangani
f. Diare
Diare adalah penyakit yang kejadiannya berhubungan erat dengan kondisi hygiene dan sanitasi yang buruk serta tingkatan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) masyarakat yang belum juga membaik.
Pada tahun 2008 kasus penyakit diare di wilayah Puskesmas Mamboro adalah sebanyak 410 kasus menurun bila dibandingkan kasus pada tahun 2007 sebesar 479 kasus.
Sedangkan kasus diare pada balita adalah sebanyak 262 kasus pada tahun 2008 dengan persentase kasus diare pada balita yang ditangani adalah 62 % dari seluruh kasus yang terjadi dan 3,454/100.000 pddk.
. Berikut Grafik Distribusi penyakit diare menurut waktu pada tahun 2008.

Dari grafik diatas terlihat bahwa penyakit diare mulai memperlihatkan trend meningkat terjadi diawal tahun yaitu bulan januari 2008 dan menurun di bulan februari sampai dengan bulan juni dengan puncak kasus berada pada bulan agustus , kemudian cenderung menurun sampai dengan September lalu kembali memperlihatkan trend peningkatan kasus.
g. Malaria
Seperti halnya penyakit DBD, penyakit malaria juga dalah golongan penyakit insect borne disease, dengan vector utamanya adalah nyamuk spesies Anopheles. Nyamuk ini hidup dan berkembang biak di air tergenang yang kontak dengan tanah.
Pada tahun 2008, jumlah penderita penyakit malaria klinis yaitu 38 kasus Dari jumlah tersebut 8 kasus (21,05 %) dinyatakan positif malaria berdasarkan hasil pemeriksaan sediaan darah penderita dan kemudian mendapatkan pengobatan. Jadi angka kesakitan Malaria adalah 3,20/1000 pddk serta persentase penderita malaria yang diobati adalah 92,11 %
Jumlah penyakit malaria klinis dan positif secara keseluruhan di Puskesmas Mamboro cenderung mengalami penurunan kasus dari tahun ketahun. Pada tahun 2007 jumlahnya mencapai 74 malaria klinis dan 15 positif. Tahun 2005, 126 klinis dan 16 orang positif dan tahun 2006, 109 penderita malaria klinis dan hanya 12 orang dinyatakan positif.
h. Kusta.
Pada Tahun 2008 penyakit kusta yang diobati ada 3 kasus penderita MB dan semuanya mendapat pengobatan dan dalam tahap penyembuhan.
Dalam hal ini semua penderita kusta diwilayah Puskesmas Mamboro masih menjalani pengobatan secara rutin.
i. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi ( PD3I Yang termasuk dalam penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi antara lain : Diftheri, Pertusis, Tetanus Neonatorum, Campak, Polio dan Hepetitis B.
Pada tahun 2008 kasus penyakit pada PD3I adalah penyakit campak yang berjumlah 4 kasus yang terjadi dikelurahan Mamboro dan angka kesakitannya dalah 34/100.000 penduduk
B. Hasil Kegiatan
Lembar Kegiatan Praktik Klinik Sanitasi Di Puskesmas Kota Palu
Puskesmas : Mamboro
No | Hari/Tanggal | Waktu | Kegiatan | Ket |
1. 2. 3. | Senin, 14 Maret 2011 Selasa, 15 Maret 2011 Rabu, 16 Maret 2011 | 08.30-09.00 09.00-09.30 09.30-10.00 13.00 09.00-12.00 12.00-12.30 08.00-08.30 12.30 | Pengarahan dari kepalah Puskesmas perkenalan staf dan ruangan Puskesmas bersih-bersih di ruang klinik sanitasi apel siang pengambilan data di kelurahan mamboro apel siang pembagian kuisioner kepada pasien apel siang |
No | Hari/Tanggal | Waktu | Kegiatan | Ket |
4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. | Kamis, 17 Maret 2011 Jum’at, 18 Maret 2011 Sabtu, 19 Maret 2011 Senin, 21 Maret 2011 Selasa, 22 Maret 2011 Rabu, 23 Maret 2011 Kamis, 24 Maret Jum’at, 25 Maret | 08.00-12.30 07.30-08.00 08.00 07.30-08.30 09.00-12.30 12.30 09.20-12.00 08.30-11.45 12.00 09.00-12.00 12.00 09.00-11.30 08.00-09.00 09.00 | Klinik sanitasi Apel pulang Kerja bakti Kerja bakti Pengambilan data di kel. Taipa Apel pulang Pengambilan data sanitasi dasar di kel. mamboro Pengambilan data sanitasi dasar Apel pulang Klinik sanitasi Apel pulang Pengambilan sampel depot amiu Kerja bakti Tabulasi data inspeksi sarana sanitasi dasar |
No | Hari/Tanggal | Waktu | Kegiatan | Ket |
4. 5. 6. | Sabtu, 26 Maret 2011 Senin, 28 Maret 2011 Selasa, 29 | 08.00-09.30 09.30-11.30 12.00 08.00-10.00 10.00-11.30 11.00-13.30 08.00-10.00 13.30 12.00-12.30 12.30-13.30 13.30 | membungkus abate pengambilan data sanitasi dasar di taipa apel pulang Apel pulang |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar